Proses syuting film Dusun Mayit yang berlangsung selama 30 hari di berbagai lokasi seperti Jakarta, Sukabumi, dan Gunung Welirang memberikan banyak pengalaman berharga bagi aktor Randy Martin. Dalam film ini, ia berperan sebagai Raka, seorang mahasiswa pencinta alam yang hidup sebatang kara dan bertekad untuk memperlihatkan tantangan mendaki gunung kepada orang-orang lain.
Raka menjalani hidup dengan memberi tutorial bagi mereka yang tertarik untuk melakukan pendakian. Dalam mempersiapkan perannya, Randy melakukan berbagai riset untuk mendalami karakter yang akan diperankannya, termasuk belajar tentang teknik pendakian yang benar dan aman.
“Salah satu latihan yang saya lakukan adalah menguasai teknik membuat simpul dan menggunakan tali. Meskipun dalam film ini sifat pendakiannya lebih kepada kesenangan, saya tetap merasa ada tantangan yang harus dihadapi—seperti ketika saya terjebak dalam situasi sulit di Dusun Mayit,” ungkap Randy, yang berusaha mendalami hidup Raka dengan sepenuh hati.
Persiapan Mendalam Pentingnya Riset Karakter dalam Film
Persiapan untuk peran tak hanya sekadar belajar dialog, tetapi juga memahami setiap nuansa karakter. Randy merasa penting untuk berempati pada Raka, apalagi ketika berhubungan dengan Nita, karakter yang diperankan oleh Ersya Aurelia. Keterikatan emosi antara mereka berdua menambah kedalaman terhadap cerita yang disampaikan melalui film ini.
“Saya belajar bagaimana perasaan Raka ketika harus menjaga Nita, bahkan ketika situasi menjadi sulit. Ketika Nita cedera, Raka siap melakukan apa saja untuknya, yang menjadi salah satu aspek paling mendalam dari karakter ini,” jelasnya. Ini menuntutnya untuk memberi performa yang lebih dari sekadar akting.
Randy pun menyadari bahwa mempelajari teknik mendaki gunung bukanlah hal yang mudah. Ada banyak hal teknis yang harus dikuasai dan dilatih, agar bisa meyakinkan penonton tentang realitas adegan yang ditampilkan di layar. Ini adalah tantangan yang ia hadapi dengan semangat dan dedikasi tinggi.
Menjalani Syuting dengan Serangkaian Tantangan Fisik dan Emosional
Selama syuting, Randy sering kali harus menjalani adegan-adegan yang sangat melelahkan secara fisik. Raka banyak terlibat dalam momen-momen dramatis, terutama saat harus menggendong Nita dalam perjalanan yang melelahkan melalui medan yang sulit. Randy tak hanya berperan sebagai aktor, tetapi juga harus merasakan penderitaan fisik yang dialami karakternya.
“Saya sampai membawa fisioterapis ke lokasi syuting agar bisa meredakan sakit punggung yang saya alami. Proses ini juga menunjukkan betapa pentingnya menjaga kesehatan fisik dalam dunia perfilman,” tambahnya. Tanpa dukungan tepat, bisa sangat sulit untuk menjalani proses yang intens tersebut.
Momen-momen keletihan ini menjadi pengingat pentingnya keseimbangan antara kesehatan fisik dan mental, terutama di tengah tuntutan pekerjaan yang sangat intensif. Adaptasi sangat penting bagi seorang aktor yang terjun ke dalam peran yang menuntut fisik seperti ini.
Film dengan Nuansa Budaya dan Tradisi yang Kuat
Film Dusun Mayit juga menyentuh aspek-aspek kearifan lokal dan tradisi yang ada di daerah tempat syuting. Selain petualangan di alam, penggambaran budaya setempat menjadi bagian integral dari cerita. Kontroversi muncul ketika karakter Raka bertindak di luar batas-batas yang dihormati oleh masyarakat setempat.
“Ketika Raka tidak menghormati tradisi yang berlaku, akibatnya tragis dan menjadi bagian dari cerita yang mendalam. Ini memberi pesan tentang pentingnya menghormati budaya dan norma-norma di setiap daerah,” kata Randy. Hal ini bagi mereka menjadi pelajaran berharga tentang keragaman budaya di Indonesia.
Memahami konteks budaya ini menjadi penting bagi para aktor untuk meresapi karakter dengan lebih mendalam. Randy berpendapat, hal ini tidak hanya menambah kedalaman karakter, tetapi juga menimbulkan rasa tanggung jawab terhadap cerita yang diceritakan dalam film.
Kesiapan untuk Menyambut Tantangan Baru di Dunia Film
Randy Martin mengungkapkan bahwa ia sangat menantikan respon penonton terhadap film Dusun Mayit yang dijadwalkan tayang di bioskop pada akhir tahun 2025. Dengan pengalaman syuting yang begitu mendalam, ia berharap setiap orang dapat mengapresiasi pesan yang terkandung dalam cerita tersebut.
“Penonton akan melihat lebih dari sekadar film horor, tetapi sebuah perjalanan yang mengajarkan tentang cinta, kepercayaan, dan pentingnya menjalani hidup dengan menghormati tradisi,” jelasnya. Harapan tinggi menyertai proyek ini sebagai tonggak penting dalam kariernya.
Setiap pengambilan gambar dan usaha yang dilakukan selama syuting merupakan langkah menuju pencapaian yang lebih besar. Ini menjadi motivasi bagi Randy untuk terus membangun kariernya di dunia film, dengan komitmen untuk menyajikan yang terbaik bagi penonton.
